TUTORIAL

Tampilkan postingan dengan label Ad-dienul Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ad-dienul Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Januari 2014

Kisah Pemilik Kebun

Bismillah...

Al Qur’an banyak sekali menyajikan kisah-kisah yang sangat patut untuk kita pelajari, pahami dan amalkan. Ada banyak kisah Nabi di dalamnya; Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, Nabi Yusuf, Nabi Yunus, Nabi Nuh, Nabi Ibraahim, Nabi Musa, Ashabul Kahfi, Ashabul Ukhdud, dan beberapa kisah lain yang tidak disebutkan namanya. Ada satu kisah dalam Al-Qur’an yang bila kita membaca dan memahaminya dengan baik maka mungkin akan kita pertanyakan lagi diri-diri ini apakah  pernah melakukannya dalam kehidupan kita atau tidak.

Dalam terjemahan Surah Al-Qalam ayat 17-33;

17.  Sesungguhnya Kami telah Menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah Menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka pasti akan memetik (hasil)nya di pagi hari,
18.  Tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan, “Insyaa Allah”),
19.  Lalu kebun itu ditimpa bencana (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur,
20.  Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita*.
*Maksudnya: Maka terbakarlah kebun itu dan tinggallah arang-arangnya yang hitam seperti malam.
21.  Lalu mereka panggil memanggil di pagi hari:
22.  "Pergilah pagi-pagi ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya".
23.  Maka pergilah mereka saling berbisik-bisik.
24.  "Pada hari ini jangan sampai ada orang miskin masuk ke dalam kebunmu".
25.  Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya).
26.  Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan),
27.  “bahkan tidak memperoleh apapun”**.
** mereka mengatakan Ini setelah mereka yakin bahwa yang dilihat mereka adalah kebun mereka sendiri.
28.  Berkatalah seorang yang paling bijak di antara mereka: "Bukankah Aku Telah mengatakan kepadamu, mengapa kamu tidak bertasbih (kepada Tuhanmu)***?"
*** yang dimaksud bertasbih kepada Tuhan ialah mensyukuri nikmat-Nya dan tidak meniatkan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Tuhan seperti; meniatkan tidak akan memberi fakir miskin.
29.  Mereka mengucapkan: "Maha Suci Tuhan kami, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim".
30.  Lalu mereka saling berhadapan dan saling menyalahkan.
31.  Mereka berkata: "Celaka kita!; Sesungguhnya kita orang-orang yang melampaui batas".
32.  Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada ini, sungguh, kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita.
33.  Seperti itulah azab (di dunia). dan sungguh, azab akhirat lebih besar sekiranya mereka mengetahui****.
**** Allah menerangkan bahwa dia menguji penduduk Mekah dengan menganugrahi mereka nikmat-nikmat yang banyak untuk mengetahui apakah mereka bersyukur atau tidak sebagaimana Allah Telah menguji pemilik-pemilik kebun, seperti yang diterangkan pada ayat 17-33. Akhirnya Pemilik kebun itu insyaf dan masuk Islam berbondong-bondong setelah penaklukan Mekah.

pic source
Pemilik kebun tersebut sangat yakin bahwa mereka akan memetik hasil kebunnya itu di pagi hari, dan mereka tidak ingat untuk mengucapkan Insyaa Allah (Jika Allah menghendaki). Mereka pun malah punya niat untuk tidak memberikan sedikit hasil mereka kepada fakir miskin. Saat mereka tertidur maka Allah turunkan bencana di kebun mereka. Kebun mereka terbakar dan tidak ada sisa sedikitpun. Keesokan pagi, tercenganglah para pemilik kebun. Mereka pun saling menyalahkan. Mereka pun sadar mereka adalah orang-orang yang melampaui batas. Akhirnya pemilik kebun insyaf dan bertobat kepada Allah.

Kisah ini berkaitan dengan ‘akhlak’, bagaimanakah jika kita terlalu mengandalkan usaha saja tanpa menyertakan Allah di dalam setiap usaha kita. Terkadang diri ini terlalu sombong karena dengan usaha sendiri. Padahal darimana datangnya semua usaha dan keberhasilan? Semua datangnya dari Allah.

Dari Abdullah Bin Mas’ud radhiayallahu’anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
وعن عبداللّه بن مسعودرضى اللّه عنه عن النّبىّ صلّى اللّه عليه وسلّم قال : لايدخل الجنّةمن كان فى قلبه مثقال ذرّةمن كبر ، فقال رجل : انّ الرّجل يحبّ ان يكون ثوبه حسناونعله حسنة ، قال : انّ اللّه جميل يحبّ الجمال . الكبر : بطرالحقّ وغمط النّاس (رواه مسلم)٠


“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah (ATOM) dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu)
Terkadang diri ini lupa untuk mengucapkan “Insyaa Allah”. Perkataan Insyaa Allah adalah salah satu bentuk kita menyertakan Allah dalam usaha-usaha kita. Keyakinan bahwa hanya Allah-lah yang mampu membuat segalanya di dunia ini terjadi atau tidak terjadi. Semoga membaca kisah ini akan mengingatkan diri sendiri dan semoga orang lain pun mendapatkan manfaatnya. Segala yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah. 
"Segala yang benar datangnya dari Allah dan yang salah dari diri pribadi ini, semoga Allah mengampuni."


Hima Rain 

Selasa, 14 Januari 2014

Shalat Sekenanya

Bismillah...

Berikut ini adalah potongan cerita yang kukutip dari Majalah Ar-Risalah, semoga bermanfaat dan sebagai bahan muhasabah, cekidot~

......o0o......

Pada suatu sore hari, hampir satu jam selepas Ashar, di masjid dekat kampus masih ada beberapa orang yang tengah menunggu waktu dimulainya sebuah kajian rutin.


Sementara, seorang laki-laki dewasa masuk tergopoh-gopoh sambil menyeka air bekas wudhu di mukanya. Masih sambil berjalan, dia mengurai lintingan celana jins warna birunya. Sejurus kemudian mengikatkan handuk kecil yang semula ada di pundaknya pada bagian dengkul yang terbuka menganga. Mendadak langkahnya berhenti, dia memutar kuncung topinya ke belakang, lalu bertakbir dan memulai shalat ashar.

Sungguh pemandangan yang nampak aneh, kostumnya -celana jin biru belel, dengan ikatan handuk di dengkulnya, kaos oblong dengan gambar dan bertuliskan BOB MARLEY, serta topi yang kuncungnya dibalik di belakang- sulit dipercaya kalau lelaki dewasa itu tengah menjalankan shalatnya. Apalagi gerakannya yang cepatnya tak terduga. Sesekali pandangannya datar ke depan, atau juga sedikit mendongak ke atas ke arah sudut antara eternit dan dinding masjid. Belum tiga menit, 'drama shalat kilat' itu pun usai. Pelakunya menyudahi dengan salam yang juga tak sampai sempurna, bersambung dengan tengadah tangan sebentar kemudian diusapkan ke muka (berdoa) seraya berdiri dan ngeloyor keluar lagi. 'Drama' seperti itu, mungkin para pembaca juga pernah menyaksikannya.

Kini marilah kita bandingkan, bagaimana di antara para pendahulu kita melaksanakan kewajiban serupa. Ketika ditanya tentang bagaimanakah dia melaksanakan shalat, Hatim Al-Asham menceritakan, "Jika tiba waktunya shalat, aku sempurnakan wudhuku dan segera pergi ke tempat aku ingin shalat di dalamnya."

"Kemudian aku berdiri untuk shalat, dan aku jadikan Ka'bah ada di hadapanku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, dan malaikat maut ada di belakangku. Aku bayangkan seolah-olah bahwa shalatku ini adalah shalat terkahir bagiku. Aku berdiri dalam shalat dalam keadaan harap dan takut."

Dalam kesempatan lain dia juga berkata, "Aku berdiri karena untuk melaksanakan perintah-Nya, berjalan dengan rasa takut, memulainya dengan niat, membaca takbir memulainya dengan niat , membaca takbir dengan penuh pengagungan, dan membaca AlQuran dengan taril serta tafakur. Aku rukuk dengan khusyu', sujud dengan tawadhu', duduk tasyahud dengan sempurna dan mengucap shalat dengan niat. Aku menyudahi shalat dengan ikhlas karena Allah, dan aku pun merenungkan nasibku dengan perasaaan takut; khawatir jika Allah tidak menerima shalatku."

Manakah yang lebih baik antara yang pertama dan yang kedua? Kiranya kita bisa menyimpulkannya.

Penting kita catat, bahwa di samping shalat memang sebuah kewajiban yang harus kita tegakkan, ia juga merupakan syiar yang paling tinggi dari agama ini. Jika itu kita rendahkan dengan cara mengerjakan sekenanya, niscaya jatuh dan rendah pula harga diri pribadi dan agama kita ini. Wallahu A'lam.

sumber: Majalah ar-risalah no.70/Th.VI hlm. 27

Selasa, 31 Desember 2013

Umm Tahun Baru?? Tentang Hati dan Cinta

Bismillah...

Selain Ulang Tahun, saya pun tidak merayakan Tahun Baru. Iya, masya Allah kalau ada yang bertanya kenapa, awalnya mungkin saya akan menjawab tidak suka dan alasan-alasan agar orang lain tidak tersinggung dengannya. Dan saya pun berpikir tidak sepatutnya menyimpan ilmu yang telah kita dapatkan sebelumnya, apalagi ini tentang ad-dien.

Kenapa saya tidak merayakan ultah, tahun baru dan perayaan lain yang dibuat oleh manusia? Jawabannya: ini persoalan aqidah, masalah kepercayaan dan pembenaran hati. Subhanallah masalah hati itu adalah masalah kita dengan Allah. Ya penjelasannya panjang, kita liat yang satu ini saja yuk beberapa kutipan kuambil dari Fanspage Yusuf MansurNetwork, cekidot.

Ada baiknya ketika melakukan atau merayakan sesuatu ada baiknya kita tau asal-usulnya. Nah, terkait Tahun Baru, kita liat sejarahnya dulu dehh~

Perayaan tahun baru masehi memiliki sejarah panjang. Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan. Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (G Capdeville “Les épithetes cultuels de Janus” inMélanges de l’école française de Rome (Antiquité), hal. 399-400)

Umm ternyata eh ternyata sejarahnya tidak lain dan tidak bukan hari itu adalah hari dedikasi salah satu dewa orang-orang Romawi, jelas ya ini bukan berasal dari Islam, tidak setitikpun.

Umm sejarahnya tidak ada hubungannya dengan Islam, selain itu fakta besar lainnya “Merayakan tahun baru tidak ubahnya merupakan tasyabbuh (perbuatan meniru) kebiasaan agama lain”, yang dengannya semakin lama akan semakin mengikis aqidah kita dan juga mengikis pula rasa bangga terhadap agama Islam ini. Sebagaimana hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban berikut: “Barangsiapa bertasyabbuh (menyerupai ) suatu kaum maka ia termasuk dari mereka”.

Allah SWT berfirman:


ولن ترضى عنك اليهود ولا النصارى حتى تتبع ملتهم”.



“Dan orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan rela kepadamu hingga kamu mengikuti agama/millah (Tradisi khas keagamaan, jalan hidup) mereka”. (QS. Al-Baqarah: 120)


Umm selain dua poin di atas, ada satu poin yang patut kita liat juga. Perayaan tahun baru identik dengan pesta dan kembang api. Keduanya menghambur-hamburkan harta untuk sebuah kesia-siaan. Membakar mercon sama saja dengan membakar uang. Paadahal masi ada hal bermanfaat lain yang bisa kita lakukan dengannya;

وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا [الإسراء/26، 27]


"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS Al-Israa’ [17] : 26-27)


Semoga kita senantiasa selalu dilindungi Allah dari kesia-siaan dan dari perbuatan maksiat kepadaNya. Masya Allah persoalan aqidah itu persoalan kita dan Allah. Kalo perayaan tahun baru adalah perbuatan mengikis aqidah, sungguh menghindarinya adalah suatu perbuatan yang sangat baik. Dan tulisanku ini adalah wujud cintaku kepada sesama saudara-saudari muslim.





Hima Rain

Minggu, 13 Oktober 2013

Puasa Arafah ~Menggugurkan Dosa Tahun Lalu dan Tahun Akan Datang~

Bismillah...


Dari Abu Qatadah al-Anshari Radiallohu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab,
صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ السَّنَة الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ“
 Berpuasa pada Hari Arafah menggugurkan dosa tahun lalu dan tahun akan datang”. 
(HR. Muslim) 

Insya Allah pada tahun ini, 9 Dzulhijjah 1434 H jatuh pada tanggal 14 Oktober 2013. Yuk, berpuasa di hari tersebut. Semoga dimudahkan Insya Allah aamiin p(^-^q)

Hima Rain

Sabtu, 15 Juni 2013

Ramadhan sebentaaar lagi

Bismillah...


Lebaran sebentar lagi

Berpuasa sekeluarga
Sehari penuh yang sudah besar
Setengah hari yang masih kecil
Alangkah asyik pergi ke masjid
Shalat tarawih bersama-sama

itu potongan lirik yang kuingat dari lagu Lebaran Sebentar Lagi yang dipopulerkan beberapa tahun lalu oleh Bimbo. Lirik yang simpel, keasyikan dan kebersamaan dalam bulan Ramadhan. Ingat lirik ini langsung ingat momen-momen Ramadhan dan lebaran tahun-tahun yang sudah lewat. Kurang lebih sebulan lagi kita akan menghadapi bulan suci tersebut kalau Allah masih mengizinkan. 

Kira-kira apa yang harus kita persiapkan menjelang bulan Ramadhan ini. 

1. Diri
Menyiapkan diri mulai dari fisik hingga ruhiyah kita. Kalau fisik sebisa mungkin kita latihan berpuasa untuk menghadapi bulan puasa sebulan penuh pada Ramadhan nanti. Perbanyak makan-makanan sehat dan berolahraga. Yah, seperti hari-hari biasanya. Namun kita harus lebih menjaga kesehatan lagi. Bukankah kalo lebih baik dari hari ini adalah sebuah keuntungan?! Selain fisik ruhiyah kita pun patut kita beri makan. Makanan seperti apa yang dibutuhkan oleh ruhiyah kita? Yaitu makanan peng-upgrade-an keimanan. Sebisa mungkin setiap harinya kita mengupgrade keimanan kita dengan selalu mengingat Allah (ini yang paling penting), berdzikir, beribadah wajib dan sunnah, perbanyak membaca Al-Qur'an, dan senantiasa mengikuti kajian-kajian Islami guna menambah tsaqofah Islamiyah. 

2. Membuat jadwal kegiatan
Jadwal kegiatan seperti apa, kalian pasti bertanya-tanya. Mulai saat ini buatlah jadwal kegiatanmu mulai dari kegiatan sahurmu hingga tarawih. Sebisa mungkin semua waktumu bermanfaat di bulan Ramadhan nanti. Jangan sia-siakan waktumu di bulan Ramadhan dengan hal yang sia-sia.

3. Buat matrix pencapaian
Kira-kira kalau tahun lalu kamu punya bolong-bolong puasa atau tidak khattam Al-Qur'an, tahun ini kamu harus lebih lagi dari tahun lalu. Kalau bisa sih lebih banyak lagi hal-hal yang kita tambah untuk pencapaian-pencapaian lain di bulan Ramadhan nanti. Membuat matrix seperti ini akan lebih mengingatkanmu dan membuatmu lebih mengingat hal-hal yang akan kamu lakukan nantinya.

4. Jangan lupa ya, ganti puasa kamu yang belum terbayar waktu puasa tahun lalu bagi wanita khususnya nih.
Nah, itu saja kira-kira sedikit persiapan-persiapan dari hima yang semoga saja bermanfaat. Ramadhan sebentar lagi lo. hehehehe..

sumber gambar dari fb yusuf mansur network


Hima Rain

Sabtu, 05 Januari 2013

Doa yang dibaca ketika ada angin kencang

Bismillah...

Masya Allah betapa kencangnya angin saat ini. Hima yang ada Rainnya juga jadi sedikit minder dengan rain pagi ini. Hujan deras yang disertai angin kencaaaang bangeeet. Lampu kamarku sempat meredup dikit kemudian terang lagi. Kalo momen-momen seperti ini biasanya sangat menakutkan, begitu besarnya kekuatan Allah memperlihatkan dan memperdengarkan suara angin dalam waktu-waktu seperti ini kepada manusia. Banyak-banyak berdzikir di tengah hujan. 

Doa yang dibaca ketika ada angin

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا
”Allahumma innii as’aluka khairaha  wa ’udzu bika min syarriha”
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu angin yang baik, dan aku berlindung kepada-Mu dari bencananya” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, lihat Shahih Ibnu Majah 2/1228)
atau membaca
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ
”Allahumma innii as’aluka khairaha  wa khaira maa fiihaa wa khaira maa ursilat  bihi wa ’udzu bika min syarriha wa syarri maa fiihaa wa syarri maa ursilat bihi”
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu angin yang baik dan kebaikan yang ada di dalamnya. serta kebaikan apa yang Engkau kirimkan dengannya, dan aku berlindung kepada-Mu dari angin yang jelek, dan kejelekan apa yang di dalamnya serta bencana yang dibawanya” (Muttafaq alaih)
Sumber:
Hisnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani 

Sabtu, 23 Juni 2012

Solusi Mengatasi Marah

Bismillah...

Marah bisa menyebabkan orang tidak terkendali. Terkadang pula dapat membuat orang tersebut out of box. Yang kesehariannya diam, tenang, bahkan ramah kemungkinan besar jika marah bisa menjadi-jadi. Marah merupakan hasutan dari syetan laknatullah yang ingin melihat manusia terjerumus dan melakukan hal-hal buruk karena emosi yang tersulut akibat kemarahan. Marah bisa menimbulkan dampak-dampak yang nantinya akan membuat kita menyesalinya di kemudian waktu.

"Bagaimana sih mengatasi marah?"
Saya pun selalu menanyakannya sendiri pada diriku sendiri. Memiliki emosional yang berlebihan bisa membahayakan diri dan orang lain. Berdasarkan sebuah buku yang baru-baru ini kubaca 'Terapi Kecemasan' karya Muhammad Al-Munajjid, di akhir bab saya mendapatkan penjelasan mengenai marah dan solusi mengatasi marah.

Ada 11 cara yang dipaparkan beliau dalam bukunya, dan kali ini akan kupaparkan secara singkat.
1. Memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan.
Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Ketika seseorang marah lalu berucap a'udzubillah (yang artinya) 'aku berlindung kepada Allah' maka amarahnya akan hilang." Beristi'adzah adalah salah satu solusi untuk menjauhkan godaan syetan yang sedang menghasut kita untuk marah, maka dianjurkan untuk membacanya.

2. Diam
Ketika kita marah, salah satu solusi ampuh supaya kita tidak meledak-ledak adalah diam. Menjaga mulut mengeluarkan kata-kata yang tidak diinginkan saat marah bisa meredakan dan mencegah diri dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

3. Tenang
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jika seseorang di antara kalian hendak marah, hendaklah ia duduk niscaya marahnya akan hilang. Jika belum hilang, hendaklah ia tidur berbaring." Al-Khaththabi rahimahullah, orang yang berdiri siap untuk bergerak dan menampar; orang yang duduk sedikit mencegah dari keduanya; dan orang yang berbaring terhindar dari keduanya. Maka dari itu disimpulkan bahwa tujuan Rasulullah memerintahkan duduk dan berbaring agar orang yang marah tidak melakukan tindakan-tindakan sembrono- sebagaimana yang biasa ia lakukan ktika berdiri yang akan membuatnya menyesal kemudian.

4. Selalu mengingat wasiat Rasulullah
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa ada seseorang yang berkata kepada Rasulullah. "Berilah aku nasehat!" Beliau pun bersabda, "Jangan marah!" Orang itu terus mengulang ucapannya kpada Rasulullah dan beliau tetap bersabda, "Jangan marah!"
   
5. Mengetahui adanya kedudukan tinggi dan keistimewaan yang disediakan bagi siapa saja yang mampu mengendalikan diri
Rasulullah bersabda, "Orang yang tangguh bukan yang jago gulat, tapi orang ang tangguh adalah orang yang mampu mengendalikan diri ketika marah" (HR. Ahmad). Dalam riwayat lain pun, Anas radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallampernah melewati sekumpulan orang yang sedang saling bergulat. Lalu beliau bertanya, "Ada apa ini?" Mereka pun menjawab, "Si Fulan pegulat yang tangguh. Setiap kali bergulat dengan orang lain, ia selalu memenangkannya." Beliau menimpali, "Maukah kalian aku tunjukkan pegulat yang lebih tangguh darinya, yaitu seorang yang didzalimi orang lain lalu mampu mengendalikan dirinya dan mengalahkan amarahnya, setannya dan setan orang yang mendzaliminya." 


6. Manajemen marah ala Rasulullah
Beliau adalah teladan dan panutan kita semua. Semua tergambar dalam berbagai hadits beliau. Sesuai petunjuk Rasulullah, bahwa kita hanya boleh marah hanya karena Allah, yaitu bila kemuliaan-kemuliaan Allah dinistakan. Rasulullah pun pernah marah saat ada seorang imam yang memanjangkan bacaannya dalam shalat dan membuat orang enggan shalat karenanya. Beliau pun pernah marah saat Aisyah memasang helaian kain penutup yang bergambar makhluk hidup. Beliau hanya marah untuk dan hanya karena Allah.

7. Menahan amarah sekuat tenaga
Orang yang bertakwa oleh Allah akan disediakan surga seluas langit dan bumi. Di antara sifat-sifat orang yang bertakwa adalah selalu berinfak baik saat dalam keadaan lapang maupun sempit, menahan amarah, mudah memaafkan orang lain, dan Allah cinta pada orang yang berbuat baik.

8. Langsung sadar bila diingatkan
Manusia memiliki sifat, tabiat untuk marah. Dan orang diciptakan berbeda-beda tabiat. Ada orang yang sangat sulit untuk marah dan adapula yang mudah marah. Tapi orang yang shiddiq bila marah dan diingatkan kepada Allah ia segera ingat dan berhenti marah. Semoga kita pula bisa menjadi orang yang mudah diingatkan.

9. Mengetahui dampak negatif marah
Marah memiliki dampak negatif yang sangat banyak. Salah satunya bisa menyakiti orang lain baik jiwa maupun raga. Marah pun bisa membuat tali persaudaraan putus, suami dan istri bercerai, dan lain sebagainya. Marah pun berdampak pada kesehatan, di antaranya hipertensi, serangan jantung, stroke, nafas tersengal-sengal dan lainnya. Mari kita memohon keselamatan kepada Allah.

10. Mengaca saat marah
Pernahkah kita melihat wajah kita saat marah? Pastinya kita sendiri tidak akan suka melihat penampilan kita saat marah. Wajah yang merah padam, mata melotot dan tingkah seperti orang gila. Dan sungguh menggelikan dan memalukan melihat wajah yang seperti itu.

11. Berdoa
"Doa adalah senjata orang mukmin", itulah kutipan dalam paragraf awal di poin 11 halaman 118 buku ini. Berdoa untuk dijauhkan dari segala kemarahan dan keburukan akibatnya. Semoga kita tidak terjerumus di dalam jurang kezaliman karena marah. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari kemarahan. Amin

Sekian pembahasan singkat Bab 5 Mudah Marah [Temperamen] pada buku 'Terapi Kecemasan' ini. Semoga apa-apa yang tertulis di postingan kali ini bermanfaat bagi diri pribadi dan orang lain. Amin. Jika kalian ingin membacanya lebih lengkap bisa mencari buku dengan judul buku yang telah saya sebutkan di atas.

Hima Rain

Minggu, 10 Juni 2012

Hadits tentang Pertolongan Allah

Bismillah...
عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ : يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ
[رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً].
Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata : Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bersabda : Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya kamu akan mendapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa sekalipun manusia seluruhnya bersatu padu untuk memberikan pertolongan kepadamu, niscaya tiadalah mereka dapat melakukan hal itu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah bagimu. Dan jika mereka bersatu padu untuk mencelakakan kamu, niscaya tiadalah mereka dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu  yang telah ditentukan oleh Allah atas dirimu. Qalam telah diangkat dan lembaran catatan amal perbuatan itu telah kering. (HR. At-Tirmidzi). Ia berkata: "Hadits hasan shahih". 
Dalam riwayat selain At-Tirmidzi: Jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya di hadapanmu. Hendaklah kamu mengenal Allah di waktu lapang, niscaya Allah akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah, bahwa apa yang ditakdirkan tidak menimpamu. Dan apa yang ditakdirkan menimpamu, niscaya tidak akan meleset dari padamu. Dan ketahuilah, sesungguhnya pertolongan itu selalu   bersama kesabaran, sesungguhnya kesempitan ada beserta kelapangan, dan kemudahan akan datang setelah kesulitan.

Minggu, 07 Agustus 2011

11 Amalan Ketika Berbuka Puasa

Alhamdulillah, sudah memasuki ramadhan nan suci.. Kali ini ririn ingin posting tentang amalan berbuka puasa, walaupun agak tlat yah lebih baik daripada gak bukan??!!! Nah, gak sabar mau tau apa amalan-amalan tersebut??? View posting berikut yukkk.....

saya copas dari link berikut:
Bismilah......................................................................................................................

Ketika berbuka puasa sebenarnya terdapat berbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkahan. Namun seringkali kita melalaikannya, lebih disibukkan dengan hal lainnya. Hal yang utama yang sering dilupakan adalah do’a. Secara lebih lengkapnya, mari kita lihat tulisan berikut seputar sunnah-sunnah ketika berbuka puasa:

Pertama: Menyegerakan berbuka puasa.

Yang dimaksud menyegerakan berbuka puasa, bukan berarti kita berbuka sebelum waktunya. Namun yang dimaksud adalah ketika matahari telah tenggelam atau ditandai dengan dikumandangkannya adzan Maghrib, maka segeralah berbuka. Dan tidak perlu sampai selesai adzan atau selesai shalat Maghrib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098)

Dalam hadits yang lain disebutkan,

لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ

Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih). Inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka. (Lihat Shifat Shoum Nabi, 63)

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)

Kedua: Berbuka dengan rothb, tamr atau seteguk air.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik di atas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai berbuka dengan rothb (kurma basah) karena rothb amat enak dinikmati. Namun kita jarang menemukan rothb di negeri kita karena kurma yang sudah sampai ke negeri kita kebanyakan adalah kurma kering (tamr). Jika tidak ada rothb, barulah kita mencari tamr (kurma kering). Jika tidak ada kedua kurma tersebut, maka bisa beralih ke makanan yang manis-manis sebagai pengganti. Kata ulama Syafi’iyah, ketika puasa penglihatan kita biasa berkurang, kurma itulah sebagai pemulihnya dan makanan manis itu semakna dengannya (Kifayatul Akhyar, 289). Jika tidak ada lagi, maka berbukalah dengan seteguk air. Inilah yang diisyaratkan dalam hadits Anas di atas.

Ketiga: Sebelum makan berbuka, ucapkanlah ‘bismillah’ agar tambah barokah.

Inilah yang dituntunkan dalam Islam agar makan kita menjadi barokah, artinya menuai kebaikan yang banyak.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala (yaitu membaca ‘bismillah’). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih)

Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ »

Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda: “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.” (HR. Abu Daud no. 3764, hasan). Hadits ini menunjukkan bahwa agar makan penuh keberkahan, maka ucapkanlah bismilah serta keberkahan bisa bertambah dengan makan berjama’ah (bersama-sama).

Keempat: Berdo’a ketika berbuka “Dzahabazh zhoma-u …”

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: ‘Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)’.” (HR. Abu Daud no. 2357, hasan). Do’a ini bukan berarti dibaca sebelum berbuka dan bukan berarti puasa itu baru batal ketika membaca do’a di atas. Ketika ingin makan, tetap membaca ‘bismillah’ sebagaimana dituntunkan dalam penjelasan sebelumnya. Ketika berbuka, mulailah dengan membaca ‘bismillah’, lalu santaplah beberapa kurma, kemudian ucapkan do’a di atas ‘dzahabazh zhoma-u …’. Karena do’a di atas sebagaimana makna tekstual dari “إِذَا أَفْطَرَ “, berarti ketika setelah berbuka.

Catatan: Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)” Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah). Begitu pula do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih. Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.

Kelima: Berdo’a secara umum ketika berbuka.

Ketika berbuka adalah waktu mustajabnya do’a. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Manfaatkan moment tersebut untuk berdo’a kepada Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih). Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 194).

Keenam: Memberi makan berbuka.

Jika kita diberi kelebihan rizki oleh Allah, manfaatkan waktu Ramadhan untuk banyak-banyak berderma, di antaranya adalah dengan memberi makan berbuka karena pahalanya yang amat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, hasan shahih)

Ketujuh: Mendoakan orang yang beri makan berbuka.

Ketika ada yang memberi kebaikan kepada kita, maka balaslah semisal ketika diberi makan berbuka. Jika kita tidak mampu membalas kebaikannya dengan memberi yang semisal, maka doakanlah ia. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do’akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud no. 1672 dan Ibnu Hibban 8/199, shahih)

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى

Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]” (HR. Muslim no. 2055)

Kedelapan: Ketika berbuka puasa di rumah orang lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan,

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ

Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud no. 3854 dan Ibnu Majah no. 1747 dan Ahmad 3/118, shahih)

Kesembilan: Ketika menikmati susu saat berbuka.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ

Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath’imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu wa ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu.” (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322, hasan)

Kesepuluh: Minum dengan tiga nafas dan membaca ‘bismillah’.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كان يشرب في ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut beliau, beliau menyebut nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, beliau bertahmid (memuji) Allah Ta’ala. Beliau lakukan seperti ini tiga kali.” (Shahih, As Silsilah Ash Shohihah no. 1277)

Kesebelas: Berdoa sesudah makan.

Di antara do’a yang shahih yang dapat diamalkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah do’a yang diajarkan dalam hadits berikut. Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi no. 3458, hasan)

Namun jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah” setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734) An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah” saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17: 51)

Demikian beberapa amalan ketika berbuka puasa. Moga yang sederhana ini bisa kita amalkan. Dan moga bulan Ramadhan kita penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Wallahu waliyyut taufiq.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Panggang-Gunung Kidul, 27 Sya’ban 1432 H (29/07/2011)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id