TUTORIAL

Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Mei 2016

Menelusuri Kalimat Demi Kalimat dalam BUMI

Bismillah...

Tidak henti-hentinya saya menatapnya melalui rak buku saat tiap kali saya masuk di ruang ini. Penasaran selalu terbayang apa dan bagaimana, apakah tampilan luarnya sebagus isi di dalamnya?

.....o0o....

Bumi

Karya Tere Liye yang entah buku keberapa judul ini. Setahu saya karya Tere Liye itu banyak dan bagus-bagus. Saya sudah membaca judul ini, tetapi sebelumnya saya membaca karya fenomenal beliau berjudul "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin". Melalui karya ini saya " jatuh cinta" dengan Tere Liye. Ada juga novel beliau yang saya baca kali pertama yaitu Hafalan Shalat Delisa, kisah fiksi tentang seorang anak korban tsunami Aceh tahun 2006 yang ternyata Best Seller dan dibuat layar lebarnya, Sugoi~


Bumi

Awalnya kukira ini novel akan bercerita seperti novel Daun Jatuh~, tapi ternyata di luar dugaan awalku saat baca endorsementnya berubah tepat saat memasuki bab dua. Novel ini berkisah tentang seorang anak yang bernama Raib yang bisa menghilangkan dirinya dengan menelungkupkan kedua tangannya ke wajah. Ya, ia benar-benar bisa menghilang, ini bukan kalimat kiasan atau perumpamaan di buku -buku sekolah. Saya tertipu membaca ulasan singkat di belakang sampul buku. Rasa tertipu ini yang memacu untuk menamatkan buku ini.
Rasa penasaran sudah mulai bertambah saat memasuki bab ketiga lalu kemudian makin melesat hingga bab-bab selanjutnya. Kisah anak bernama Raib (nama akrab dalam novel ini Ra, maka mari kita sebut Ra mulai sekarang) ini merangsang adrenalin kita untuk mempersiapkan cemilan dan minuman sebanyak mungkin di depan meja hanya untuk dilahap bersama dengan buku ini hehehe. Ra dikisahkan adalah anak dengan kekuatan spesial yang hidup di salah satu bagian dunia yang bernama Bumi, di novel ini Bumi adalah salah satu bagian dari empat bagian dunia selain Bulan, Bintang, dan Matahari. Ketiga sisa lainnya itu katanya juga merupakan judul-judul tetralogi setelah novel Bumi.


Ra memiliki kekuatan menghilang seperti namanya 'raib', kekuatan memukul dahsyat, berpindah dengan sangat cepat, menyerap cahaya, dan juga menghilangkan apapun yang dikehendakinya. Ra adalah anak klan Bulan, keturunan salah satu ksatria terhebat klan itu. Dan Ra yang mewarisi darah klan terhebat itu ingin dibawa dan dilatih oleh Tamus, panglima lama dari Klan Bulan. Awal semua rahasia kemudian terbuka satu persatu sejak kemunculan Tamus. Belum lagi rangkaian kisah teman-teman Ra yang juga memberi kejutan-kejutan tak disangka di tiap babnya. Nah, untuk lanjutan kisahnya kalian bisa baca sendiri novel Bumi ini, insyaa Allah bagus.. bagus.. dan bagus.

Bumi

Pendapatku tentang novel ini cukup memuaskan apalagi bagian akhirnya sangat bikin puas menurutku. Tidak menggantungkan pembaca, menghilangkan rasa penasaran berlebihan tetapi di sisi lain membuat tidak sabar untuk membaca tetralogi lainnya. Kesan pertama yang muncul saat baca novel ini mengingatkanku dengan film berjudul The Giver atau Divergent, tema mereka sama-sama tentang klan, faksi, atau pembagian manusia. Namun selanjutnya kesan ini akan memudar seiring semakin jauhnya bab yang kubaca. Novel ini mau kuberi rate tinggi yaitu 8 dari 10 bintang. Alhamdulillah novel yang bagus. Mari membaca lanjutan kisah Raib dan kawan-kawan di tetralogi selanjutnya.

Hima Rain

Sabtu, 23 Maret 2013

Ibuk,

Bismillah...
Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat. -Ibuk- 
Novel Ibuk yang kubeli sejak 12 Februari 2013 lalu telah habis kubaca tadi. Saya ingat sewaktu di gramedia dan memilah-milah dan menimbang dan kupilih buku ini. Awalnya sempat ragu apa buku ini bakal bagus atau tidak. Dan hari ini terjawab. Buku ini sangat bagus sekali. Inspiratif. Sejak sebulan lalu buku ini tiap malam tidur di sisi bantal menemaniku atau berada di tasku saat bepergian ke tamalanrea atau daerah setelahnya. Naik pete-pete ke tempat jauh adalah saat tepat untuk membaca. Saat ke maros pekan lalu, saya membawa serta pula buku ini. Remaja perempuan yang duduk di hadapanku seperti terus melihat ke arah buku ini, mungkin saja dia ingin baca juga. Kuajak temanku bicara dan kuperlihatkan sampul kepadanya dan (sengaja) kepada ia juga hehe..

Awalnya kubaca bab-bab awal di rumah dan setelah itu jarang lagi karena mengurus bisnis, intensnya pun akhir-akhir ini kucicil membaca buku ini kalo dalam perjalanan. Sewaktu menuju Sudiang untuk selanjutnya ke Maros saya menghabiskan hampir 6 bab di dalam pete-pete. Saat melanjutkan perjalanan ke maros yang panjang menghabiskan waktu 2 jam saya malah cuma sempat membaca bab-bab saat Isa masuk SMA dan Bayek disunat (tokoh dalam novel ini). Hanya dua bab. 

Novel ini tiap babnya singkat. Membacanya pun nyaman dan kesannya tidak terburu-buru. Tapi walaupun tiap bab hanya beberapa halaman, yang mau disampaikan si penulis sampai kok. Pesannya sangat sampai hingga di akhir-akhir bab membuat emosi naik turun. Senang kemudian menjadi sangat sedih. Hiks...

Cerita perjuangan Ibuk dan Bapak yang sangat detil. Awal bab saat mereka kedua bertemu hingga menjalin kasih hingga akhir hayat bapak mengalir di otakku dengan sangat tenang. Tiap kata yang ditulis Iwan sangat detil, tentang Ibuk yang mengatur urusan anak dan rumah serta perjuangan Bapak si pengemudi angkot yang berkeliling dengan angkot selama 40 tahun demi membahagiakan anak dan keluarga.


Menyentuh membaca kisah ini, ada beberapa bagian yang mengingatkan masa kecilku. Bayek betul-betul mampu membahagiakan keluarganya. Anak laki-laki satu-satunya dalam keluarganya itu mewujudkan mimpinya satu-persatu dalam bab novel itu. Kapan saya akan seperti itu juga? 

Terima kasih telah menulis buku itu. Motivasi untuk berjuang lebih keras dan sukses dengan rasa bahagia makin menjalariku. Satu pesan dalam novel ini, ikhtiar dan doa adalah satu kesatuan yang komplit menuju kesuksesan. Hum, buku ini bagus dibaca untuk anak-anak yang sedang berjuang di sekolah. Belajar yang rajin ya, semuanya akan dituai olehmu bahkan orang lain pun akan mendapat hasilnya juga. 


Hima Rain

Minggu, 01 Januari 2012

Nh. Dini dan Karya yang Tak Pernah Buatku Bosan

Saya bertemu dengan penulis ini pada tahun 2001. Pertemuanku dengan beliau bukan pertemuan tatap muka layaknya kopdar teman-teman blogger. Saya hanya bertemu beliau melalui karya-karyanya yang telah apik tertata di hati dan pikiran saya. Sejak 2001 atau tepatnya saat kelas 1 SMP, saya sering menghabiskan waktu di perpustakaan saat istirahat siang. Di perpustakaan sekolahku banyak sekali buku-buku menarik yang selalu menarik-narik hatiku untuk tetap datang dengan sering di perpustakaan itu. Walaupun perpustakaan itu tidak terlalu luas dan dihuni oleh penjaga perpustakaan yang kurang ramah tapi saya masih senang dengan buku-buku di dalamnya. Bukankah daya tarik perpustakaan adalah isi buku-buku di dalamnya? Hehehe. 

Saya juga mengenal penulis-penulis seperti Buya Hamka, St. Alisjahbana, Marah Roesli, ataupun Mochtar Lubis dari perpustakaan ini. Ketertarikanku terhadap karya Nh. Dini saat saya tanpa sengaja menengok sebuah cover buku biru yang gambarnya lumayan jadul menurutku. Tergolek di pojok rak buku dan nyaris termakan rayap. Namun sampul biru jadul dengan gambar seorang anak perempuan berkepang di depannya itu sedikit membuatku penasaran. Kubuka perlahan dan kulahap selembar demi selembar. Keasyikanku terus mengalir tanpa sadar ternyata bel penanda istirahat usai telah berdentang. Fokusku kemudian lenyap dan diganti rasa kecewa yang cukup besar. Bisa menghabiskan seluruh lembaran buku tersebut dalam satu kali duduk memang mustahil. Apalagi sekali duduk itu cuma 15 menit  Saat itu saya belum membuat kartu perpustakaan. Dan dengan kecewa saya meninggalkan buku itu kembali ke dalam rak. Apakah ada yang tahu judul buku apa yang kubaca? Yang pernah membaca novel tersebut pasti tau. :D

Keesokan harinya saya pun kembali mengunjungi buku tersebut dan mantap telah berniat membuat kartu perpustakaan. Hari itu saya pulang dengan membawa buku bersampul biru itu dan sejumput senyum terhias di bibir. 

Membaca karya Nh. Dini tidak pernah membuatku bosan. Kalimat-kalimat yang ditulis beliau sangat menginspirasi diriku. Mulai dari Sekayu itu saya beralih ke "Sebuah Lorong Di kotaku" dan kemudian "Padang Ilalang di Belakang Rumah". Ada beberapa judul lain yang saya lupa judulnya. Yang pastinya saya sangat-sangat menyukai karya-karya beliau. Karya Beliau yang berjudul "Namaku Hiroko" cuma sempat kubaca sepenggal. Itupun cuma dalam buku pelajaran. Kutipan saja. Dan tetap saja pasti membuatku penasaran (tapi sekarang hima sudah dapat ebooknya http://www.smileycodes.info). 

Di awal masa kuliahku saya bertemu lagi dengan penulis ini melalui judul "Padang Ilalang di Belakang Rumah". Kebetulan yang membangkitkan rinduku pada masa-masa SMP. Judul ini sempat kucari-cari di rak buku di perpustakaan SMP ku itu tapi tak kutemukan. Jadilah saya membaca kisah Nh.Dini secara parsial. Buku itu seri kehidupan beliau. Jadinya saya membacanya lompat-lompat. Tidak runtut. Tak apalah, saya cukup puas. 

Di tahun ini saya berencana mengumpulkan kembali buku-buku itu. Tahun lalu saya menemukan toko buku lama yang menjual satu set buku Nh. Dini tersebut. Maka kubuatlah planning untuk mengumpulkannya. Semoga koleksi Nh. Dini ku lengkap dan setiap saat bisa kubuka kembali lembaran-lembaran yang tidak pernah membuatku bosan itu.   

gambar novel nh.dini kupinjam dari blog ini

Hima-Rain